oleh

Paslon Hery-Heri; Kampanyekan Agenda Tata Kelola Pemeritahan

  • Tata Kelola Pemerintahan Sebagai Strategi, Penataan Birokrasi Dalam Konteks Budaya Manggarai, Pemekaran 4 Kecamatan Dan Siapkan Aplikasi Berbasis Android Untuk Pengaduan Warga

NTT, News Report.id – Salah satu paslon (pasangan calon) Pilkada Manggarai Herybertus G.L. Nabit-Heribertus Ngabut, atau paket Hery-Heri yang biasa juga disebut paket H2N, menyampaikan, salah satu strategi dalam kebijakan pemerintahan jika terpilih dalam Pilkada Manggarai pada (9/12/2020) adalah mengoptimalkan peran aparatur sipil negara dalam melayani masyarakat dan dalam melaksanakan tugas-tugas birokrasi.

Kami tidak memasukan penataan birokrasi dalam poin misi pembangunan kami, tetapi penataan birokrasi kami pandang perlu sebagai sebuah strategi. Mengapa menjadi strategi, karena sukses tidaknya pemerintahan salah satunya ditentukan oleh manajemen birokrasi.

Karena itu strategi yang kami maksudkan  adalah bagaimana birokrasi itu ditata sebagai sebuah sistem yang menjamin tata kelolah pemerintahan yang baik.

Hal tersebut disampaikan calon wakil bupati Heribertus Ngabut, ketika menyampaikan kampanye dihadapan masyarakat pendukung pasangan ini di beberapa tempat di Manggarai, NTT.

Bagi kami, penataan birokrasi melekat pada regulasi-regulasi yang mengaturnya, bukan suka-sukanya bupati dan wakil bupati.

Maka kalau melekat pada regulasi, yang kami buat adalah bagaimana memastikan dan menerapkan regulasi-regulasi yang ada dalam menata birokrasi yang ada agar dapat bekerja secara profesional, bertanggungjawab, transparan dan melayani.

Kalau dalam regulasinya pegawai butuh pelatihan untuk pengembangan karier dan penguasaan bidang pekerjaan maka itu mesti dilakukan.

Kalau dalam aturannya pegawai mendapat renumerasi maka itu mesti dipenuhi.

Kalau dalam aturannya pegawai mesti diberi sanksi maka sanksi itu wajib diberikan.

Kalau sebuah tugas dan pekerjaan mensyaratkan ketrampilan dan keahlian khusus maka itu yang mesti dilakukan.

Jangan ada pegawai yang belajarnya di darat tetapi ditugaskan di laut untuk berlayar. Ombak datang pasti dia panik, bahkan jika dia sendiripun tak mampu berenang maka yang terjadi adalah malapetaka.

Ini mengisyaratkan satu prinsip dalam penataan birokrasi agar menempatkan orang sesuai kompetensinya, sesuai ketrampilan dan keahlian yang dipelajarinya.

Ini yang kami sebut penataan birokrasi sebagai sebuah strategi, yaitu strategi menuju pelaksanaan tugas yang profesional, bertanggungjawab, transparan dan melayani berbasis pada regulasi yang ada,” jelas Heri Ngabut.

Kami berkomitmen, masyarakat perlu dilayani dengan baik, perlu di dengar apa yang disampaikannya. Dan karena itu pada sisi lain kita perlu mempersiapkan birokrasi juga dengan baik.

Lebih lanjut Heri Ngabut menyampaikan, kami mengambil kebijakan untuk menata birokrasi dalam konteks kepemimpinan berbudaya Manggarai.  

Wajib bagi kami untuk menciptakan suasana kebhatinan kerja dengan mengedepankan sikap yang berbudaya, yaitu budaya santun dan saling menghargai.

Pemimpin bagi kami harus mampu menciptakan suasana kebatinan kerja, agar setiap pegawai dengan tugas yang dipercayakan padanya merasa bertanggungjawab. Tidak merasa takut, tidak merasa cemas, tetapi merasa dihargai, merasa dilindungi, dan ada dalam kebersamaan.

Suasana kebatinan kerja yang kami maksudkan adalah agar suasana kerja birokrasi menyenangkan, semua staf merasa memiliki pekerjaan, dan diapresiasi jika sukses, jika gagal perlu dibimbing lagi dengan baik.

Jika ada yang keliru, kita upayakan “toing agu titong”, itu konteks budaya Manggarai. Budaya kepemimpinan Manggarai menganut pola ini, “toing agu titong”,(memandu/menjelaskan dan membimbing), bukan habis dengan marah-marah tetapi tidak pernah berupaya melakukan “toing agu titong” dengan baik.

Dalam konteks pemimpin dalam budaya Manggarai, utamakan juga etika, “neka hau ngong ata”, kata “hau” tidak etis digunakan dalam tatanan budaya kepemimpinan di Manggarai. Orang Manggarai tau menghargai siapapun. Dan itu dimulai dari pemimpin.

Yang prestasi patut diberi apresiasi, apresiasi tidak selamanya diberi dalam bentuk materi, tetapi dengan ungkapan juga bisa. Apresiasi adalah sebuah bentuk dukungan dan motivasi. Dan dalam konteks budaya Manggarai apresiasi ini disebut “naring” (beri pujian/apresiasi) “kudu tambang dia panden agu ba wekin”. Agar lebih bersemangat lagi karena merasa dihargai.

Dan menjadi pemimpin dalam budaya Manggarai, neka cau tombo koe, tetapi pemimpin harus pake “nai ngalis tuka nggengga”, (pemimpin yang berwibawah dan bijaksana).

Juga jangan memelihara sikap egois, “toen ata bana, aku kanang atan”. Sikap seperti ini mesti dijauhkan dari budaya birokrasi Manggarai. “ujar Heri Ngabut yang menyelipkan istilah-istilah Manggarai dalam pembicaraannya.

Strategi yang kami bangun juga harus menjamin setiap dinas dapat membuat perencanaan dengan baik, baik tentang kegiatan dan anggarannya, agar di tengah jalan tidak terjadi rasionalisasi anggaran.

Rasionalisasi anggaran merupakan salah satu cerminan kegagalan perencanaan, dampak lain dari rasionalisasi adalah ada sejumlah kegiatan yang terpaksa dibatalkan, selain itu rasionalisasi dapat menimbulkan gesekan dalam birokrasi, karena anggaran itu dipotong dari satu dinas dan di tambahkan ke dinas lain.

Lebih lanjut Heri Ngabut mengungkapkan, rasionalisasi juga dapat menimbulkan kurang percayaan diri dari perangkat daerah untuk merencanakan kegiatan dan menyusun anggarannya karena dihantui rasionalisasi anggaran.

Kalau rasionalisasi karena kekurangan anggaran, maka tugas kami, kami pastikan untuk mencari anggaran sebanyak-banyaknya untuk membangun daerah ini, sehingga tidak ada lagi rasionalisasi karena alasan uang tidak cukup.

Strategi tata kelolah pemerintahan ini kami siapkan untuk mendukung terwujudnya visi dan misi kami jika pada saatnya kami terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Manggarai.

Ditempat terpisah, ketua tim kerja pemenangan Kabupaten pasangan Hery-heri, Wilybrodus Kengkeng, menyampaikan, salah satu agenda peningkatan pelayanan publik pasangan Hery-Heri adalah pemekaran 4 kecamatan yaitu kecamatan Cibal, Wae Ri’i, Langke Rembong dan Satarmese.

Menurut Wily, masing-masing kecamatan tersebut dimekarkan menjadi dua kecamatan. untuk Satarmese dan Langke Rembong jumlah desa di Satarmese sudah memenuhi syarat, demikian juga jumlah kelurahan di Langke Rembong telah memenuhi syarat. Tinggal di Cibal dan Wae Ri’i perlu ada penambahan desa baru melalui pemekaran desa yang ada. Dan pekerjaan berikutnya adalah bagaimana menentukan serta mempersiapkan tempat atau lokasi untuk menjadi ibu kota kecamatan baru tersebut.

Pemekaran ini menurut Wily, dimaksudkan untuk mempermudah jangkauan pelayanan pemerintah, demikian juga membantu masyarakat untuk lebih mudah mengurus berbagai hal yang diperlukan di kecamatan.

Pemekaran kecamatan ini secara politik tentu tidak masalah, karena ada sejumlah 22 anggota dari 35 anggota DPRD Manggarai dari partai pendukung yang siap mendukung, terutama untuk membahas dan menyetujui Ranperda pembentukan kecamatan-kecamatan tersebut.

Dan untuk desa, jika masih ada desa persiapan tentu didorong untuk segera menjadi desa otonom, dan jika masih ada desa lain yang berpotensi untuk dimekarkan, dan memenuhi syarat undang-undang pasti diupayakan pemekarannya,’ tutup Wily.

Sementara itu, juru bicara tim kerja kabupaten, Bona Onggot, mengatakan, untuk mendukung pelayanan publik, tim IT (information technology) dari pasangan Hery-Heri siap membantu membuat aplikasi berbasis Android sebagai media untuk memantau “perubahan”, memantau pelaksanaan program dari pasangan ini, dan aplikasi ini juga sebagai media yang digunakan untuk menyampaikan pengaduan masyarakat. Dan itu permintaan khusus dari calon bupati pak Hery Nabit kepada tim IT yang ada.

Dalam aplikasi yang disiapkan tim IT tersebut,  juga disiapkan fitur untuk mengupload surat, sehingga surat dari masyarakat ke pemerintah daerah bisa dikirim melalui aplikasi tersebut.

Secara teknis, menurut tim IT kami, setiap laporan atau pengaduan secara online dari masyarakat, dapat langsung segera diketahui bupati dan wakil bupati dan terkoneksi langsung dengan semua dinas yang ada.

Pemanfaatan IT dalam bidang ini sudah menjadi kebutuhan terutama untuk mengoptimalkan pelayanan publik agar tidak bertele-tele, dilakukan secara cepat dan transparan,’ dan ini yang dilakukan pasangan Hery-Heri pada saatnya jika terpilih dalam kontestasi Pilkada Manggarai Desember mendatang,” tutup Bona.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed