oleh

Opini: Kota Ruteng Kotor, Mari Salahkan Tempat Sampah?

Ket foto; Sampah di TPA Ncolang Wae Rii, Manggarai

Oleh: Sagur, (Penikmat Kopi Manggarai)*

Newsreport.id-Dalam memulai tulisan ini saya memulai dengan mendaraskan orasi dengan menyalahkan tempat sampah. Gara-gara “benda bodoh” itu, kota Ruteng jadi kota kotor. Kalau perlu saya tambahkan, “Marilah kita menistakan tempat sampah, sebab gara-gara sampah kesucian kota itu telah pudar.”

Padahal, Media pernah menulis kota ini sebagai kota “Seribu Biara”. Julukan ini bukanlah sesuatu yang asal-asalan disematkan, sebab di hampir setiap sudut kota Ruteng berdiri begitu banyak biara yang bahkan telah dibangun sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Sayangnya di hampir setiap sudut kota Ruteng juga sampah bertebaran.

Selain itu kota Ruteng itu adalah kota dingin yang niscaya memberikan aroma romantis sendiri. Saya tak usah membayangkan Copenhagen, yang tampak indah di kala musim dingin. Atau bahkan Paris yang sering diburu para turis saat musim dingin tiba untuk bermain salju di bawa menara Eiffel atau sungai Seine dimana bisa menuangkan kopi di cangkir milik para kekasih.

Ah Ruteng, rupanya lamunan ini terlalu jauh. Saya lupa sesaknya parkiran di sekitar emperan Sentosa Raya, swalayan yang masih menguasai jagat bisnis Manggarai. Lupa dengan petani-petani kopi yang dari subuh berangkat dari kampung. Lalu mereka beranjak dari toko mengurus KTP sebentar di kantor Catatan Sipil Kabupaten Manggarai dan kemudian pegawai capil bilang tanpa merasa bersalah, “Ema besok datang lagi!”.

Beginilah sialnya jadi orang Manggarai, menghayalnya tinggi-tinggi tapi eksekusinya rendah. Lebih banyak janji-janji palsu dan khayalan bombastis yang abstrak dan tidak mendarat. “Woi bangun oi, bangun, ngopilah!” (Minta maaf kepada kaka-kaka, om-om, tanta-tanta, inang amang yang sudah banyak berbuat tanpa khayalan palsu).

Kembali ke kebun! (untuk menghindari diksi Tukul Harwana, kembali ke laptop) Sampah di Kota Ruteng harus menjadi sorotan. Hmhmhm, mumpung lagi musim Pilkada, ini juga menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi “Petahana” yang turut mengambil bagian dalam mengotori kota Ruteng.

Begitu juga paket lain di luar Petahana, jangan meniru Petahana yang buruk dan gagal dalam mengelola sampah. Nah, itu enaknya jadi penulis, tidak abu-abu dalam mengutarakan sesuatu seperti para politisi itu. So, Petahana perhatikan ya, kebersihan kota Ruteng.

Rejim Kondom

Wah..ini pembahasannya saru! Tak apalah, sedikit berdosa bahas barang-barang ginian. Toh cuma kondom. Bukan salah saya lho bahas kaya ginian. Dulu pada tahun 2017, Floressmart.com pernah menurunkan berita ditemukannya banyak kondom di taman Kota Ruteng sepelempar batu dari beranda, tempat bupati dan jajarannya menikmati kopi senja.

Tepatnya pada Kamis 12 Januari 2017 para petugas menjumpai benda-benda yang menjijikkan di tempat rekreasi ini. Sejumlah sampah kontrasepsi habis pakai diduga kuat sisa perbuatan mesum bertebaran diantara rumput liar yang bergoyang-goyang di taman tak berdosa ini.

Dinas Lingkungan Hidup yang saat itu masih dikepalai Marsel Gambang terpaksa menurunkan pasukannya kala itu mengungkapkan ditemukan sejumlah kondom di pojok belakang dekat pohon rindang. Ia juga menyayangkan taman kota dijadikan tempat esek-esek oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Seharusnya taman kota itu adalah tempat yang nyaman untuk melepas penat bukan melepas nafsu birahi yang tidak terkontrol. Lebih bejatnya lagi menjadikan tempat itu sebagai bank sampah “benda cair” itu. Membiarkan sisa makanan, minuman hingga noda hasil cabul di tempat itu.

Kalau begini jadinya, siapa yang bertanggungjawab. Ingat ya bukan bertanggungjawab terhadap hasil cabul ketika sembilan bulan nanti, tapi sampah itu. Saya berpikir rejim kondom seperti ini harus diturunkan. Saya juga tak habis pikir, padahal taman kota ini di depan mata dan batang hidung Bupati Manggarai.

Oleh karena itu, saya bermimpi tata kelola taman itu polanya harus diubah. Bukan saja soal menjaga sampah tetapi juga ada pekerjaan tambahan yakni penjaga moral di taman yang seringkali menjadi objek pelampiasan para cabul itu. Bila perlu demi menjaga kebersihan dan moralitas di tempat ini (jika eskalasi mesumnya masih meningkat) lebih baik aparat turun tangan menindak tegas pelaku dan juga jangan menjadi pelaku.

Kota Kotor dan TPA

Pada awal tahun 2019 lalu, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengumumkan kota Ruteng sebagai ibu kota Kabupaten Manggarai NTT dinobatkan sebagai salah satu kota kecil terkotor di Indonesia. Pengumuman tersebut bersamaan dengan pemberian penghargaan Adipura kepada Kota Terbersih di Indonesia.

Memang kota Ruteng tidak sendirian, ada juga Waykabubak (Sumba Barat NTT ), Bajawa (Ngada, NTT), Waisai (Raja Ampat, Papua Barat) dan Buol (Sulawesi Tengah). Meski tak sendirian tak berarti harus senang karena ini adalah dosa bersama pemerintah di wilayah yang lain di Indonesia. Belajar dong dari yang berhasil mengelola sampah.

Penobatan ini, dinilai dari beberapa kriteria. Berdasarkan penilaian KLHK, kota terkotor mencakup penilaian fisik dan tempat pemrosesan akhir (TPA). Kota-kota terkotor itu mendapat nilai jelek karena membuang sampah terbuka.

Selain itu, kota-kota terkotor ini dikarenakan belum membuat kebijakan dan strategi nasional (Jakstranas) tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Kemudian, faktor lain yakni komitmen pemerintah daerah yang kurang, anggaran kurang, serta partisipasi publik yang kurang.

TPA juga menjadi sorotan saat sampah di Ruteng terus membeludak. Setiap hari sampah yang diangkut ke lokasi TPA adalah 200 m³ sampah perhari. TPA yang tersedia di tempat ini jauh dari harapan untuk menunjang kebersihan kota Ruteng. Alih-alih menyelesaikan persoalan sampah di kota Ruteng, TPA itu sendiri bermasalah.

Hal ini diakui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Kanisius Nasak pada Maret 2020 lalu. Nasak mengaku TPA yang terletak di Ncolang, Poco hanya seluas 1,2 hektar jauh dari standar pengelolaan sampah. Untuk itu pihaknya masih mengkaji pengadaan TPA baru dengan luas lahan minimal 5 hektar.

Nasak juga membeberkan rencana Pemkab yakni melakukan pengelolaan sampah sesuai standar yakni dengan metode controlled landfill untuk menghindari pencemaran lingkungan. Sampah yang dibuang ke TPA akan dipadatkan lalu ditutup dengan lapisan tanah setiap tujuh hari.

Pertaruhan Reputasi

Pengelolaan sampah di suatu kota seperti di Ruteng jangan pernah dianggap sebelah mata. Pengelolaan sampah mampu menguji reputasi rejim yang bertakhta di kota ini. Itulah makanya pemimpin di kota ini tidak boleh menyalahkan tempat sampah saja, hingga warga yang bandel.

Pemerintah juga harus mengkoreksi diri soal tata kelola sampah sehingga mengetahui betul akar persoalan di dalamnya. Pemerintah juga jangan malas-malas untuk membuat sebuah kajian, studi bahkan studi perbandingan dengan daerah lain yang sukses mengelola sampah.

Kalau pemerintah hanya berhasil memantau di lapangan, lalu mengumumkan di media itu namanya tukang atau penyaji data. Masyarakat butuh bukti sehingga ketika masyarakat menyuarakan soal kegagalan misalnya, jangan kaget. Atau kalau ada yang mengkritisi dianggap lawan politik dan melawan pemerintah. Saat inilah reputasi dipertaruhkan.

Maka dari itu, daripada banyak bicara, di akhir kisah kota Ruteng yang dinodai, saya kembali menyerukan jangan menistakan tempat sampah, sebab dengan benda itu, kita mampu mengembalikan kesucian kota Ruteng. Kita bisa mengembalikan wajah kota Ruteng yang indah permai. Kota dingin menyimpan banyak cerita termasuk rejim yang malas mengolah sampah.

Sampah ini memang hal kecil, perkara kecil yang harus diselesaikan oleh seorang pemimpin. Kalau perkara sampah sekecil itu saja tidak bisa diselesaikan bagaimana mungkin perkara-perkara besar bisa diurai?

*Isi naskah dalam rubrik “Opini” sepenuhnya tanggungjawab penulis/ pemilik opini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed