oleh

Opini: Budaya Caci Butuh Dipahami Pemiliknya

Oleh: Paulus Susanto, S.Fil

Video tradisional costume NTT viral dikritik dan diperdebatkan di berbagai media sosial seperti facebook dan lain-lain. Kritik dan perdebatan itu terkait busana, jenis kelamin, dan hal lain yang berhubungan dengan budaya caci yang dipertontonkan seorang wanita dalam video itu.

Hal yang menarik adalah kritik dan perdebatan itu lebih banyak terjadi dari dan antar masyarakat Manggarai Raya. Di sana ada dari kalangan DPRD, para pegawai pemerintahan, dan ada juga dari masyarakat biasa. Para kritikus dan debaters ini sangat responsif dengan video viral itu.

Semua masyarakat itu hebat dan patut diapresiasi terkait perspektifnya masing-masing tentang budaya caci. Namun, apakah kehebatan itu menunjukkan konsep budaya caci yang benar? Jawabannya tidak,  karena budaya caci dikritik dan diperdebatkan tanpa referensi yang jelas dan atau sama. Video itu hanya salah satu dari sekian persoalan tentang budaya caci selama ini. Pada hal, selain video itu, ada juga sebelumnya kritik terhadap pementasan seni budaya caci harus pada tempatnya.

Para kritikus dan debaters seharusnya menanggapi video itu dengan dasar yang jelas dan sama. Mengapa? Pertama, sebagai orang Manggarai, kita harus sudah memiliki pemahaman yang sama tentang budaya caci dari waktu ke waktu. Dengan pemahaman yang sama itu, kita pantas kaget kalau ada orang lain yang meniru, memodifikasi dan mementaskan seni budaya caci. Kedua, untuk memahami budaya caci diperlukan referensi yang jelas. Selama ini budaya caci itu lebih banyak dipentaskan seninya dari pada bagaimana kita melahirkan referensi yang jelas tentang budaya caci. Sehingga, isi kritik dan dan debat kita hanya berlandas pada perbedaan level kemampuan pemahaman kita tentang budaya caci. Ketiga, Perbedaan pemahaman kita dalam kritik dan debat membuat pelaku di dalam video merasa aneh dengan kita sebagai kritikus dan debaters. Si pelaku pasti bingung, manakah yang benar dari berbagai perspektif kita.

Sebagai orang Manggarai, kita seharusnya malu dalam konteks di atas. Saya sendiri orang Manggarai yang tidak tahu benar tentang budaya caci. Saya juga tambah bingung dengan banyaknya konsep budaya caci dari kita sendiri, kendatipun saya bukan pelaku dalam video viral itu. Karena itu, saya coba menawarkan solusi berikut. Pertama, mari kita sepaham memahami budaya caci. Untuk itu, buku referensi tentang budaya caci yang baku harus diperbanyak. Saya bangga ada pejabat negara terlibat dalam kritik dan debat soal video itu. Kita bisa meminta para pejabat itu untuk menghimpun para penulis handal yang bisa menulis lebih banyak buku yang berisi konsep baku dan sama tentang budaya caci. Dengan demikian kita punya kesamaan konsep dalam mengeritik si perempuan dalam video viral itu. Kedua, jika buku referensi yang menjadi pedoman bersama masyarakat sudah diperbanyak dan dipahami, para pejabat negara diminta untuk membentuk semacam peraturan daerah tentang sanksi yang benar terhadap pelanggar budaya caci atau budaya Manggarai pada umumnya. Ketiga, diminta kepada para penulis untuk menghasilkan berbagai buku referensi yang bisa dijangkau oleh semua kalangan. Bila perlu, ada jenis buku yang menjadi pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai dari lembaga pendidikan usia dini hingga jenjang lebih tinggi.

Selama ini, para pejabat negara, khususnya pemda kita hanya mengurus promosi seni budaya dari pada meningkatkan pemahaman masyarakat tentang budayanya sendiri. Itu sama halnya dengan pemerintah menjual sayur tanpa mengetahui bahwa sayur itu ternyata produk dari luar Manggarai. Beberapa tawaran solusi di atas diharapkan menjadi perhatian pemerintah sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan budaya sendiri. Video viral itu menyakitkan, tetapi budaya caci yang dipertontonkan dalam video viral itu sedang butuh dipahami pemiliknya.

Penulis: Wartawan newsreport.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *