oleh

Komunitas Seni Anti Kope (Anti Komplotan Pembohong) Milik Orang Muda Cibal, Mengkritik Deno Madur Melalui Pentas Fragmen

Ribuan masa memadati Bea Welu, Wudi, hadiri tatap muka dengan paket Hery-Heri

NTT, News Report.id – Sebuah pentas cuplikan drama pendek (fragmen), dipentaskan oleh komunitas seni bernama Komunitas Seni Anti Kope.

Dalam drama kecil yang mereka tampilkan, komunitas ini melakukan kritik atas praktek nepotisme, kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia, serta mengkritik kegagalan pembangunan yang dilakukan pemerintahan Deno-Madur di wilayah Cibal.

Terkait pembangunan yang secara khusus diangkat dalam fragmen tersebut adalah kritik atas pembangunan Wae Kebong. Dalam drama tersebut mereka mengkritisi pengerjaan proyek Wae Kebong yang menelan anggaran miliaran rupiah tetapi tidak bermanfaat.

Disaksikan ribuan masa yang hadir, fragmen itu menggambarkan Wae Kebong yang dibangun dengan uang miliaran rupiah namun tidak bermanfaat. Tidak bisa menjadi sumber air bersih karena sudah menjadi kubangan kerbau. Tidak bisa dijadikan tempat rekreasi karena tidak dirawat, jalan masuknya sudah ditumbuhi rumput liar. Dan pembangunan Wae Kebong terbukti telah merusak hutan lindung.

Selain Wae Kebong, drama tersebut juga mengkritik ketidak mampuan pemerintah Deno-Kamelus yang tidak mampu menyiapkan tenaga kerja serta tidak mampu menyiapkan lapangan kerja. Begitu banyak tamatan sekolah termasuk sarjana, terpaksa menjadi pekerja serabutan, dan bahkan menjadi penganggur karena tidak tersedianya lapangan kerja.

Boni Ogur, penggagas komunitas ini mengatakan, pesan utama fragmen ini adalah mengingatkan masyarakat Cibal bahwa selama ini pemerintah Manggarai telah hamburkan dana untuk bangun sesuatu yang tidak bermanfaat. Sementara, jumlah penganggur selalu meningkat di Cibal.

Seandainya pemerintah bijak, dia (bupati Manggarai, red) akan kelola uang tersebut untuk membuka lapangan kerja dan mendukung upaya peningkatan kreativitas kaum muda Cibal.

Fragmen tersebut ditampilkan di depan ribuan orang yang hadir saat tatap muka masyarakat dari beberapa tempat di wilayah Cibal bagian timur dengan paket Hery-Heri atau H2N (Herybertus Nabit-Heribertus Ngabut) yang bertempat di Bea Welu, Wudi, Kecamatan Cibal pada Kamis (24/9/2020).

Masih menurut Boni Ogur, “Kope” adalah singkatan dari “Komplotan Pembohong” sehingga nama panjang dari Komunitas yang kami dirikan ini adalah Komonuitas Seni Anti Komplotan Pembohong.

Komunitas ini menyadari bahwa selama ini di Cibal ada banyak janji dari kelompok tertentu untuk berbuat sesuatu tetapi tidak ditepati.

Karena tidak ditepati ada banyak ketimpangan pembangunan, ada banyak ruas jalan yang rusak, karena rusak masyarakat kesulitan dalam melakukan aktifitas seperti mengangkut barang dan orang menjadi kesulitan.

Kini kami memiliki komunitas seni anti Kope jelang Pilkada Manggarai agar kami tidak dibohongi lagi oleh janji-janji politik dari kelompok yang hadir jelang Pilkada Manggarai yang pasti datang menyampaikan janji-janji lagi untuk mengelabui kami warga masyarakat Cibal.

Menurut Boni, adapun latar belakang hadirnya komunitas ini antara lain.
Pertama, kami prihatin dengan situasi selama ini dimana masyarakat dibohongi dengan janji-janji manis.

Kedua, kami ingin membuktikan bahwa masyarakat sudah cerdas untuk membedakan mana aksi dan mana teori.

Ketiga, kami selaku anak muda ingin buktikan bahwa “Perubahan” itu memerdekaan siapa pun. Jadi, perubahan itu harus benar-benar terwujud demi Manggarai tercinta.

Hadir dalam kesempatan tatap muka tersebut, selain pasangan paket Hery-Heri yang didamping ketua tim Kabupaten, Wily Kengkeng, juga dihadiri sejumlah tim penasehat, pimpinan partai politik serta anggota DPRD Manggarai dari partai pengusung paket Hery-Heri.

Pada Pilkada tahun 2015, Wudi dan wilayah Cibal timur umumnya dikenal sebagai basis dukungan untuk Deno-Madur, namun pada Pilkada 2020 ini tampaknya sudah berubah jika menyimak diskusi lepas diantara warga yang hadir, mereka menghendaki perubahan dan ganti bupati yang ada dengan bupati baru secara konstitusional melalui Pilkada Manggarai 2020.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed