oleh

Hery Nabit: Berita Tentang ‘Wae Mendi’ Merupakan Bentuk Pengalihan Issue

Hery Nabit ditemani isteri dalam sebuah kunjungan (Foto Dok Pribadi)

NTT-NEWS REPORT.ID – Sebuah media online yang beralamat di Jakarta pada Minggu (30/8/2020) lalu memberitakan, Pendukung Deno Kamelus di Satar Mese Raya Dicap Sebagai ‘Wae Mendi’. 

Menanggapi pemberitaan tersebut, Heribertus G.L. Nabit, bakal calon bupati Manggarai periode 2020-2025 mengatakan, istilah wae mendi yang dihembuskan media tersebut merupakan bentuk pengalihan issue atas kegagalan pembangunan yang dirasakan oleh warga Manggarai selama ini.

“Istilah wae mendi merupakan pengalihan issue atas kegagalan pembangunan yang dirasakan warga Manggarai selama ini (selama kepemimpinan Deno-Madur, Red)” tegas lelaki yang akrab disapa Hery Nabit.

Hal itu disampaikan Hery Nabit di hadapan ratusan pendukungnya di Natas Kampung Pau, kelurahan Pau, Kecamatan Langke Rembong, Kamis (3/9) siang.

Seperti yang diketahui, sebuah media online yang beralamat di Jakarta, pada hari Minggu lalu memberitakan, semua pendukung Deno Kamelus di Satar Mese Raya dicap sebagai wae mendi. Pernyataan wae mendi tersebut, menurut media tersebut dikutip dari akun facebook dengan nama Belasius Beben, yang merupakan sebuah akun palsu.

Hery Nabit menambahkan, penggunaan istilah wae mendi merupakan bentuk pengalihan issue karena pemerintah Manggarai pada periode sekarang tidak mampu menunjukkan keberhasilannya di hadapan rakyat Manggarai, khususnya di wilayah Satar Mese Raya. 

“Pihak pemerintah (DM, Red) sudah tidak mampu menunjukkan apa saja keberhasilannya di masyarakat,” ungkapnya yang disambut tepuk tangan meriah dari massa yang jumlahnya lebih dari 500 orang.

Lanjut Hery Nabit, kalau (paket DM, Red) mau menang di Satar Mese Raya, tunjukkan apa yang sudah dibuatnya, bukan menghembuskan issue murahan yang tidak bakal laku,” katanya.

Dilanjutkannya, issue tersebut sudah tidak berlaku di Satar Mese Raya, karena hampir 70% pemilih di Satar Mese Raya berumur di bawah 40 tahun yang sudah lupa dengan istilah wae mendi, ditambah lagi bahwa issue tersebut berasal dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Intinya, istilah tersebut merupakan pengalihan issue ketika di semua pelosok Manggarai, rakyat meneriakan kegagalan dan butuh perubahan. Sehingga kita tidak perlu tanggapi issue tersebut, kita sebaiknya fokus pada pemenangan paket Hery-Heri untuk mewujudkan perubahan di Manggarai melalui Pilkada tanggal 9 Desember 2020 yang akan datang,” tandas Hery Nabit.

Acara yang berlangsung di Natas Pau tersebut merupakan kelanjutan dari acara wuat wa’i oleh lima panga yang ada di gendang Pau, Kecamatan Langke Rembong. Wuat Wa’i merupakan sebuah ritus adat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan paket Hery-Heri selanjutnya. 

Hadir pada acara tersebut, semua ketua partai pengusung paket Hery-Heri tingkat kabupaten Manggarai seperti, Yoakim Jehati (ketua Partai Golkar), Kosmas Banggut (ketua DPC PKB), Adolfus Gabur (Ketua DPC Hanura), Rustam Kellilaw (Ketua DPC PKS), Adrianus Sehadun (Ketua DPC Gerindra) dan Aven Mbejak (sekretaris DPC PDIP). Tampak hadir sejumlah partai pendukung yang non seat. Hadir juga sejumlah anggota DPRD seperti Simprosa R. Gandut yang juga salah satu wakil ketua DPRD kabupaten Manggarai.

Nampak hadir pula sejumlah tokoh masyarakat diantaranya, Ny. Hendrika Wia Rotok, istri mantan bupati Manggarai dua periode, Christian Rotok dan sejumlah tokoh lain.

Rangkaian acara ditutup dengan deklarasi Weta de Hery-Heri dan Laskar 88 tingkat kelurahan Pau.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed