oleh

Fraksi Gerindra DPRD Manggarai; Simantri Gagal, Itu Bukti Nyata Kegagalan Deno-Madur

Ruteng, Newsreport.id – Beberapa anggota DPRD Manggarai dari Fraksi Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) menilai program bidang pertanian bernama Simantri (sistem manajemen pertanian terintegrasi) yang dilakukan pemerintah Deno-Madur (Kamelus Deno-Viktor Madur) sebagai program yang terbukti gagal.

Penilaian tersebut didasari pada fakta lapangan setelah melakukan monitoring pelaksanaan kegiatan Simantri pada kelompok penerima program Simantri. Hal tersebut disampaikan ketua Fraksi Gerindra DPRD Manggarai, Adrianus Sahadun, kepada media ini pada Senin (2/11) di Ruteng.

Menurut Dian, Pemerintah Deno-Madur hanya mampu menampilkan data kesuksesan programnya di atas kertas termasuk program Simantri, tetapi fakta di lapangan justru berbanding terbalik, karena di lapangan kami temukan banyak kejanggalan dan ketimpangan dalam pelaksanaan program tersebut.

Dian kemudian mengatakan, sebagai anggota DPRD, kami dari Fraksi Gerindra melakukan tugas pengawasan di lapangan termasuk untuk program Simantri. Terkait program Simantri, kami temukan banyak kejanggalan dan ketimpangan.

Persoalan Samantri Di Beberapa Tempat

Lebih lanjut Dian menjelaskan, kejanggalan dan ketimpangan program ini antara lain; “penerima manfaat program ini hanya diperuntukan bagi beberapa orang dalam kelompok terutama bagi pengurus kelompok Simantri, namun bagi anggota lainnya banyak yang tidak mendapatkan manfaat. Banyak anggota kelompok tidak merasa sebagai anggota kelompok Simantri sebab bantuan yang ada hanya diperuntukan bagi orang-orang tertentu, tidak untuk semua anggota kelompok”.

Yang kedua, kami temukan bantuan kelompok yang mubasir. Ada lokasi Simantri, Greenhouse sudah dibangun, juga ada kandang untuk ternak sapi, dan peralatan-peralatan lainnya, tetapi tidak dimanfaatkan.

Ketiga, ada kelompok Simantri yang tidak tepat sasaran, penerimanya bukan petani. Dian mengatakan, “ada bangunan Simantri berupa Greenhouse dan kandang untuk ternak sapi, tetapi tidak ada aktivitas yang menunjukan kegiatan Simantri di lokasi tersebut, tanaman yang adapun tak terawat dan tampak kerdil. Serta kandang yang sudah tersedia tak terisi ternak.

Setelah kami cek ternyata dalam kelompok Simantri tersebut status anggotanya bukan petani” kita sudah bisa simpulkan uang sejumlah ratusan juta menjadi terbuang sia-sia pada kelompok ini,” tambah Dian.

Dua hal tersebut yaitu mubazir dan tidak tepat sasaran, menurut Dian, terjadi pada kelompok Simantri di kelurahan Bangka Leda, Langke Rembong.

Pada beberapa Simantri kami temukan kualitas konstruksi Greenhouse yang mutunya rendah menyebabkan ada Greenhouse yang baru dibangun dan lekas ambruk. Kalaupun masih berdiri namun kondisinya rusak padahal belum lama dibangun.

Kepada News Report.id, salah satu anggota Fraksi Gerindra lainnya, asal kecamatan Cibal, Remi Nalas, yang menjabat sebagai sekertaris Fraksi Gerindra DPRD Manggarai, merincikan data temuan dari hasil pengawasan Fraksi Gerindra terhadap program Simantri Deno-Madur, lebih khusus di kecamatan Cibal, antara lain.

Pada lokasi Simantri di desa Nenu dan di kelurahan Pagal, kecamatan Cibal. Menururt Remi, pada Simantri ini ada pengadan ternak sapi, namun ternak sapi itu ditujukan kepada perorangan, bukan untuk kegiatan kelompok Simantri terutama untuk menjadi sumber bahan pupuk organik dari kotoran sapi. Itupun, menurut informasi yang kami dapatkan, sebagian dari sapi-sapi yang diterima perorangan tersebut sudah dijual. Dan secara umum pada Simantri ini, bantuan yang ada hanya diperuntukan untuk beberapa orang dalam kelompok bukan untuk semua anggota Simantri.

Lalu, pada lokasi Simantri di kampung Wela desa Gapong, kecamatan Cibal, lahan Simantri di lokasi ini kini tidak dimanfaatkan untuk tanam Holtikultura tetapi di atas lokasi tersebut telah dibangun kandang ayam pedaging.

Ayam yang dipelihara pada kandang tersebut bukan milik anggota kelompok Simantri, tetapi milik ketua kelompok Simantri selaku pemilik lahan, selain pelihara ayam juga ditanami padi karena kelompok Simantri ini sudah bubar.

Remi berujar “yang lebih aneh menurut Remi, Simantri yang ada di Wela tersebut, di lahannya tidak lagi ditanami sayur-sayuran tetapi sudah ditanami padi.

Masih dari kecamatan Cibal, Simantri di kampung Mawe desa Golo hanya di kelolah oleh beberapa orang saja. Ada banyak anggota kelompok mengundurkan diri karena bantuan pada Simantri ini dinilai tidak transparan dan hanya untuk beberapa orang saja. Konstruksi bangunan Greenhouse pada kelompok Simantri ini pernah rusak, rusak karena mutu bahan konstruksinya buruk.

Kemudian Simantri di desa Wae Mulu Rampasa, kecamatan Wae Rii, juga mengalami soal yang kurang lebih sama dengan beberapa Simantri lainnya, antara lain, penerima manfaat hanya beberapa orang saja, sementara anggota kelompok lainnya tidak merasa memiliki Simantri ini karena tidak mendapatkan bantuan Simantri.

Pada Simantri ini, bangunan Greenhouse sudah ada, dan ada kandang untuk ternak sapi, tetapi tidak ada sapi yang diternak di kandang tersebut. Kandangnya kosong tanpa ada hewan ternak.

Pada Simantri ini juga telah disiapkan instalasi air untuk kegiatan kelompok Simantri, dalam bentuk sambungan pipa air, tetapi tidak berfungsi karena mesin pompa airnya rusak, padahal mesin tersebut adalah mesin baru yaitu pengadaan tahun 2019.

Kalau sapi-nya sudah dijual dan juga ada Simantri yang menyiapkan kandang tetapi tidak ada sapi yang diternak pada kandang tersebut, itu artinya target untuk menghasilkan pupuk dari kotoran sapi yang diolah oleh kelompok Simantri tersebut tidak tecapai atau gagal terwujud. Lalu dimana sistem integrasinya? Inikan sudah berbeda,” ujar Remi.

Menururt Remi, ini kejanggalan dan ketimpangan Simantri dari fakta yang kami temukan di beberapa lokasi Simantri di Manggarai, atas kondisi tersebut kami dari Fraksi Gerindra DPRD Manggarai menilai bahwa program Simantri Deno-Madur gagal, walau menurut catatan di atas kertas oleh pemerintah Deno-Madur berhasil, tetapi fakta lapangannya menunjukan kegagalan, “tutup Remi.

Laporan Pemerintah Cendrung Fiktif

Menanggapi keterangan pemerintah yang disampaikan Kepala Dinas Pertanian pada media setempat bahwa sejak sejak tahun 2017 hingga tahun 2019 diperoleh pendapatan petani Holtikultura sebesar 25.974.424.250 dengan total investasi daerah pada program Simantri dan Holtikultura umum bersumber dari APBD mencapai Rp. 31.194.433.965,-

Anggaran tersebut menurut pemerintah Deno-Madur yang disampaikan Kadis Pertanian bersumber dari tiga OPD (orgnisasi perangkat daerah) yaitu dari Dinas Pertanian sejumlah 21.961.136.463,- dari Dinas Peternakan sejumlah Rp. 7.118.327.120,- dan dari Dinas PU sebesar 2.114.970.382,-

Atas hal tersebut, Anggota Fraksi Gerindra lainnya, Boni Burhanus, memberikan pendapat bahwa laporan itu cendrung fiktif. Karena pemerintah Deno-Madur membuat laporan di atas kertas, bukan atas harga riil pasar.

Menurut Boni, yang mereka hitung adalah luas lahan, lalu dalam luas lahan itu ditaksir jumlah tomat yang ditanam. Kemudian dari jumlah tanaman tomat itu ditaksir satu pohonnya dapat menghasilkan berapa kilogram. Kemudian total hasil tomat dari satu lahan Simantri dikali dengan perkiraan harga pasar perkilogram tomat. Lalu dapatlah total harga tomat yang dihasilkan dari satu lahan Simantri. Demikian juga untuk tanaman lain seperti boncis, cabe, terung dan lain-lain.

Mereka tidak menghitung harga yang fluaktuatif,  yaitu harga yang tidak stabil, harga yang naik turun di pasar. Harga tomat dalam kondisi tertentu mencapai Rp. 10.000 perkilogram namun jika harga jatuh bisa turun sampai Rp. 2.000 perkilogram. Pemerintah hanya menghitung pada perkiraan harga tertentu misalnya Rp.10.000, perkilogram, namun dan pada saat turun cendrung tidak dilaporkan.

Mereka juga tidak menghitung biaya angkut, misalnya biaya angkut dari Ruteng ke Labuan Bajo, biaya sewa stand pasar di Labuan Bajo jika petani itu menjual sendiri di Labuan Bajo, dan kerugian barang yang tidak bisa dijual karena rusak. Baik rusak dalam perjalanan ke Labuan Bajo maupun rusak karena disimpan beberapa hari dan rusak karena perubahan iklim dari Ruteng yang dingin beralih pada iklim Labuan Bajo yang panas.

Itu yang saya maksudkan pemerintah membuat laporan cendrung fiktif karena membuat laporan atas harga perkiraan di atas kertas, bukan membuat laporan atas harga riil di pasar dan juga tidak menghitung semua biaya sampai barang-barang itu terjual di pasar dan tidak menghitung biaya kerugian dari resiko-resiko lainnya.

Mestinya menurut Boni, Pemda merincikan pendapatan itu, berapa yang diperoleh khusus dari program Simantri yang menggunakan anggaran sangat besar, dan berapa dari Holtikulurta umum yang anggarannya tidak sebesar Simantri.

Jangan sampai pendapatan 25 miliar itu lebih besar diperoleh dari petani Holtikultura umum dan dari Simantri sebagai program prioritas yang anggarannya besar namun pendapatan bagi petani tidak seberapa.

Untuk beli Greenhouse saja 20 unit yang besar, jika satu unitnya seharga 225 juta,  berarti Pemda sudah mengeluarkan uang 4,5 miliar hanya untuk membeli Greenhouse. Belum ditambah membeli Greenhouse ukuran mini yang jumlahnya sudah mencapai 75 unit Greenhouse,” jelas Boni.

Lebih lanjut Boni mengatakan, mengapa Simantri harus dihitung khusus, supaya dapat mengetahui seberapa besar dampak intervensi program ini bagi petani Holtikultura di Manggarai. Dan juga untuk mengetahui rasio berapa persen pengembalian modal dari total investasi pada program Simantri dan investasi pada Holtikultura secara umum.

Jika mampu menghitung dengan rinci, perhitungan ini dapat mengukur berhasil tidaknya program ini. Kalau dihitung secara umum, kita tidak bisa mengklaim bahwa program ini sukses bagi petani karena bisa jadi pendapatan dari Simantri tidak seberapa, dan pendapatan itu menjadi kelihatan besar karena ditutup oleh penjualan Holtikultura umum yang angkanya melampaui pendapatan Simantri.

Kami dari fraksi Gerindra dari tahun ke tahun selalu memberikan catatan krtitis terkait ini dan juga pernah meminta pemerintah Deno-Madur menghentikan bantuan pada kelompok ini, karena ditemukan kejanggalan di lapangan.

Kami sampaikan ini pada saat padangan umum fraksi maupun pendapat akhir Fraksi Gerindra dalam berbagai agenda di DPRD Manggarai namun pemerintah Deno-Madur tetap kukuh mempertahankan pelaksanaan program yang kami nilai gagal total ini.

Boni mengatakan, “kami akui, gagagasan awal program ini cukup baik dan sangat menarik, namun pada tataran pelaksanaannya justru bermasalah karena ketidakmampuan pemerintah Deno-Madur mengawasi pelaksanaan kegiatan ini di lapangan, sehingga yang muncul di lapangan adalah ada banyak kejanggalan dan ketimpangan”.

Gerindra Alihkan Dukungan Karena Deno-Madur Gagal

Sementara itu Sekretaris DPC Gerindra Kabupaten Manggarai sekaligus tenaga ahli Fraksi Gerindra DPRD Manggarai, Erwin Nala, mengatakan, pada tahun 2015 Partai Gerindra adalah partai yang dengan jumlah lima kursi di DPRD Manggarai, dan dengan segala sumberdaya yang dimiliki partai ini di Manggarai saat itu berupaya keras memperjuangkan kemenangan Deno Madur.

Menururt Erwin, saat itu Gerindra Manggarai mendukung Deno-Madur karena yakin  pasangan ini sanggup membawah kemajuan melanjutkan pembangunan Credo jilid I & II (Chirtisan Rotok-Kamelus Deno), namun faktanya sekarang justru berbeda.

“Kenyataanya di lapangan lain, pasangan ini terbukti membawa mundurnya pembangunan di Manggarai. Infrastruktur jalan rusak dimana-mana. Bangunan ruang kelas banyak rusak tidak diperhatikan. Keluhan akses air bersih masih terjadi dibanyak tempat. Sejumlah 20 cara nyata Deno-Madur bangun Manggarai juga tidak ditepati. Termasuk gagalnya program Simantri ini adalah bukti nyata kegagalan pemerintah Deno-Madur selama berkuasa di Manggarai,” ujar Erwin

Untuk diketahui Partai Gerindra pada Pilkada Manggarai tahun 2015 adalah salah satu partai pengusung pasangan Deno-Madur, namun pada Pilkada Manggarai 2020,  partai besutan Prabowo Subianto ini, bermodalkan empat kursi di DPRD Manggarai lebih memilih memberikan dukungan sebagai partai pengusung untuk pasangan Hery-Heri (Herybertus G.L. Nabit-Heribertus Ngabut). Dan bahkan memecat dengan tidak hormat  salah satu kadernya atas nama Adrianus Suardi karena terbukti menjadi tim sukses pasangan Deno-Madur.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed