oleh

Deno Tolak Rencana Pembangunan RS. Pratama di Reo, Warga: Itu Kebutuhan Kami

Ruteng, News Report.id – Deno Kamelus, calon bupati Manggarai periode 2020-2025 menolak keras rencana pembangunan rumah sakit (RS) Kelas D Pratama di wilayah utara dan selatan kabupaten Manggarai, karena diklaim bertentangan dengan peraturan menteri kesehatan (Permenkes). Sementara dalam Permenkes yang dimaksud bupati Manggarai tersebut, masih dimungkinkan untuk membangun rumah sakit Pratama karena wilayah utara Manggarai (reok dan Reok Barat) dan wilayah selatan (satarmese Raya) jangkauan wilayah sangat jauh dari RSUD Ben Mboi Ruteng.

Selain tidak bertolakbelakang dengan Permenkes No. 24 Tahun 2014 Tentang Rumah Sakit Kelas D Pratama, kehadiran RS Kelas D Pratama sangat diibutuhkan oleh warga di dua kecamatan tersebut, karena selama ini akses pelayanan pasien miskin sangat sullit ke RSUD Ben Mboi di Ruteng.

Ahmad Yani, salah seorang warga kecamatan Reok mengatakan, warga kecamatan Reok dan Reok Barat sangat membutuhkan kehadiran RS Kelas D Pratama untuk mengatasi pelayanan kesehatan warga di dua kecamatan tersebut. “Warga kecamatan Reok sangat antusias dan mengharapkan kehadiran RS kelas D Pratama yang hanya melayani pasien kelas III atau yang berkemampuan di bawah rata-rata alias keluarga miskin,” kata Ahmad Yani kepada media ini, Jumat (4/12/2020) via telpon.

Menurut Ahmad Yani, warga dua kecamatan di pesisir utara Manggarai mengharapkan agar rencana pembangunan RS kelas D Pratama yang melayani keluarga miskin bia terealisasi karena jangkauan RSUD Ruteng sangat jauh dan memakan biaya. “Banyak sekali hal yang menguntungkan kami di Reok dan Reok Barat, karena kebutuhan pelayanan kesehatan terhadap kami  terpenuhi dan juga akan terjadi penghematan biaya,” ungkapnya.

Dia jelaskan juga, memang terjadi pro-kontra terhadap rencana ini, khususnya terkait regulasi tetapi ada pihak yang tidak transparan soal regulasi tersebut. “Para orangtua kami di Reok dan Reok Barat diyakinkan bahwa rencana tersebut bertentangan dengan regulasi dan ini dikampanyekan sejumlah pihak, tetapi sayangnya ada bagian dari regulasi tersebut yang ditutup-tutupi yaitu terkait jangkauan pelayanan ke RSU daerah,” jelasnya.

Dia rincikan, salah satu bagian yang terpenting dari Permenkes tersebut adalah soal jangkauan ke RSUD, dalam hal ini RSUD Ben Mboi Ruteng, yang sangat jauh dari Reok dan Reok Barat. Isi regulasi tersebut yang tidak kalah pentingnya, imbuhnya, adalah soal siapa yang layak mendapat pelayanan rumah sakit kelas D Pratama yaitu hanya pasien miskin kategori kelas III. “Warga Reok dan Reok Barat didominasi oleh warga miskin dan dengan kehadiran rumah sakit kelas D Pratama, warga sangat terbantu. Karena kalau ke Ruteng, begitu banyak uang kami butuhkan seperti makan dan penginapan,” urainya.

Ahmad Yani sangat sesalkan sikap dari Deno Kamelus, calon bupati yang sementara menjadi bupati Manggarai, yang beralasan bahwa rencana pembangunan RS Kelas D Pratama di wilayah utara Manggarai bertentangan dengan regulasi. “Pernyataan Deno Kamelus bertentangan dengan fakta bahwa ada kabupaten di Flores yang memiliki rumah sakit kelas D pratama yaitu kabuoaten Ende. Mengapa kabupaten Ende bisa memiliki rumah sakit kelas D pratama, yang diremikan bupati Ende pada November lalu? Mengapa Manggarai tidak?” ungkpanya, bertanya.

Dianaktirikan

Menurut Ahmad Yani, pernyataan Deno Kamelus yang menolak rencana pembangunan RS Kelas D Pratama di wilayah utara Manggarai terkesan menganaktirikan warga Reok dan Reok Barat yang menginginkan akan adanya pelayanan dasar kesehatan bagi warga miskin.

Bahkan dia menganggap bahwa pemerintahan di era Deno Kamelus dan Viktor Madur (DM) warga miskinnya sudah dan akan diabaikan. “Infrastruktur jauh dari memadai dan giliran warga miskinnya mengharapkan  pelayanan kesehatan, ditentangnya habis-habisan dengan alasan regulasi. Kalau berdasarkan regulasi yang selalu dikampanyekan pak Deno Kamelus, mengapa kabupaten Ende bisa? Ini yang menjadi pertanyaan kami warga Reo dan Reok Barat,” tandasnya.

Seperti yang diketahui, paket Herybertus G.L. Nabit dan Herybertus Ngabut (H2N) dalam salah satu programnya akan berencana membangun RS kelas D Pratama di wilayah utara dan selatan manggarai untuk mendekatkan pelayanan kesehatan terhadap keluarga miskin di dua wilayah tersebut.

Berdasarkan Permenkes No. 24 Tahun 2014 Tentang Rumah Sakit Kelas D Pratama, kehadiran RS tersebut  bertujuan untuk mendorong pemerataan rumah sakit di semua daerah di Indonesia, yang memiliki peran yang sangat strategis dalam pemberian pelayanan kesehatan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat.  Selain itu, dalam rangka peningkatan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat terutama masyarakat miskin dan tidak mampu di daerah yang telah memiliki rumah sakit umum daerah yang telah ada, tetapi sulit dijangkau akibat kondisi geografis.

Dalam PermenkesNo. 24 Tahun 2014 tersebut, Rumah Sakit Kelas D Pratama ini  paling sedikit menyelenggarakan pelayanan medik umum, pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan,  pelayanan laboratorium pratama, pelayanan radiologi dan pelayanan farmasi.

Dalam setiap kampanyenya, Deno Kamelus selalu mengkampanyekan bahwa apa yang direncanakan oleh paket H2N untuk membangun rumah sakit Pratama di Utara dan Selatan bertentangan dengan regulasi. Ahmad Yani mengatakan, apa yang disampaikan Cabup Deno Kamelus terbantahkan dengan sendirinya dengan kehadiran rumah sakit Pratama di kabupaten Ende yang sebelumnya sudah memiliki rumah sakit daerah umum daerah (RSUD). Menurut Ahmad Yani, kabupaten Ende bukan daerah tertinggal dan wilayahnya tidak berbatasan dengan Negara lain tetapi disana telah dibangun dan telah diresmikan rumah sakit Pratama oleh buapti Ende pada 12 November 2020.

Sebagai informasi tambahan, melansir berita Pos Kupang, (13/11/20), Di kabupaten Ende telah di bangun rumah sakit Pratama, rumah sakit Pratama tersebut di bangun di Tanah Li di Wewaria dan diresmikan oleh bupati Ende Bupati Djafar Achmad pada Kamis, 12 November 2020 bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional (HKN). Rumah sakit Pratama yang diresmikan tersebut telah mulai dibangun sejak tahun 2017. (rik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed