oleh

Deklarasi, Relawan Muda H2N Jakarta Siap Mendukung dan Menangkan Hery-Heri

Deklarasi H2N Jakarta
Deklarasi Relawan Muda H2N Jakarta

JAKARTA, NEWS REPORT.ID – Relawan Muda H2N Jakarta mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Herybertus Geradus Laju Nabit dan Heribertus Ngabut (Hery-Heri/H2N) sebagai calon bupati dan calon wakil bupati Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk periode 2021-2025, di Jakarta (06/09).

Acara ini digelar usai pasangan Herybertus Geradus Laju Nabit dan Heribertus Ngabut (H2N) resmi mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Manggarai, Sabtu (05/09).

Relawan Muda H2N Jakarta menyatakan diri, mendukung secara penuh dan siap memenangkan pasangan H2N dalam kontestasi Pilkada Manggarai, yang akan dilaksanakan pada 9 Desember 2020 mendatang.

“Adapun dukungan tersebut kami berikan dengan telah melewati suatu pertimbangan yang matang, dilakukan secara sadar, rasional, otonom, dan tanpa  paksaan dari siapapun serta bebas dari segala bentuk kepentingan opurtunis maupun pragmatis,” kata Ketua Relawan Muda H2N Jakarta, Hans Pohar di Jakarta, Minggu (06/09).

Menurut Hans, dukungan ini murni diberikan sebagai suatu bentuk panggilan nurani orang muda dalam rangka tercapainya cita-cita perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih maju untuk Daerah Kabupaten Manggarai.

“Kami melihat bahwa selama ini, secara khusus di dalam masa kepemimpinan Bupati Deno Kamelus dan Wakil Bupati Victor Madur (DM), Daerah Kabupaten Manggarai mengalami kemunduran dan sangat tertinggal jauh dari kemajuan. Ada begitu banyak fakta yang cukup membuktikan hal tersebut,” ungkapnya.

Sementara Sekretaris Relawan Muda H2N Jakarta, Yohanes Hambur membeberkan beberapa alasan dukungan ke pasangan Herybertus Geradus Laju Nabit dan Heribertus Ngabut (Hery-Heri/H2N).

Pertama, demikian Yohanes menjelaskan, soal kondisi infrastruktur seperti jalan raya yang sama sekali tidak diperhatikan. Dari fakta yang ada di lapangan, terlihat bahwa selama kepemimpinan DM, ada begitu banyak ruas jalan yang kondisinya cukup memprihatinkan, rusak parah, dan tidak diperbaiki.

“Kedua, akses masyarakat terhadap air minum bersih yang masih sangat sulit. Dari fakta yang ada, sejauh ini, masih ada begitu banyak warga Manggarai yang mengonsumsi air kali untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, dalam janji yang dikatakan oleh DM pada 2015 lalu, masalah ini menjadi salah satu program kerja yang akan segera ia selesaikan. Janji ini tertulis jelas di ’20 Janji Kerja DM’,” ungkap Yohanes.

Alasan ketiga, yakni banyak proyek yang dikerjakan dengan cara-cara yang koruptif dan hasilnya mangkrak. Sebagai contoh, jelas Yohanes, proyek pembangunan Embung Wae Kebong yang dilakukan di wilayah hutan lindung di daerah Cibal. Pembangunan embung ini menghabiskan dana sekitar Rp1,2 Miliar.

Contoh lain lagi, lanjut Yohanes, ialah proyek pembangunan irigasi Wae Kuli Denger di Desa Lemarang, Kecamatan Reok Barat. Proyek ini dikerjakan sejak tahun 2016, namun hingga saat ini masih belum selesai alias mangkrak. Padahal, dana yang dipakai untuk pengerjaan irigasi ini mencapai Rp2 Miliar lebih.

Keempat, keberadaan dan tata kelolah birokrasi yang masih dipenuhi oleh praktik-praktik koruptif dan tidak transparan. Bagi Yohanes, hal ini dapat dilihat dari fakta adanya pengangkatan beberapa pejabat di dinas tertentu yang syarat akan praktik nepotisme dan penuh unsur politis.

“Sementara alasan kelima, kultur demokrasi yang sama sekali belum ada. Kami melihat bahwa selama DM memimpin Manggarai, banyak keputusan atau kebijakan yang diambil sama sekali tidak mempertimbangkan aspirasi dari warga. Bahkan dalam hal pengambilan keputusan, warga sama sekali tidak dilibatkan,” kata Yohanes.  

Persoalan ini, demikian Yohanes, terjadi karena tidak adanya ruang publik sebagai wadah komunikasi timbal balik antara warga dengan pemerintah. Hasilnya, kebijakan-kebijakan yang ada menjadi tidak menyentuh atau menjawab kebutuhan masyarakat.

“Dalam konteks kemanggaraian, tidak adanya ruang publik ini juga menjadi bukti bahwa rezim DM sebenarnya telah mengkhianati filosofi yang diyakni oleh orang Manggarai, yakni Nai Ca Anggit, Tuka Ca Leleng, Bantang Cama Reje Leles,” ujar Yohanes.

Keenam, masalah hibah tanah ke PT. PERTAMINA di Reo. Masalah ini, demikian Yohanes, syarat akan praktik korupsi dan manipulasi. Apalagi dalam pengambilan keputusannya, warga sama sekali tidak dilibatkan, bahkan warga menolak keras langkah tersebut.

Meskipun masih ada banyak fakta yang bisa ditampilkan sebagai bukti bahwa kepemimpinan DM gagal memimpin dan membangun Daerah Kabupaten Manggarai, demikian Yohanes menjelaskan beberapa point di atas cukup menjadi alasan bagi mereka untuk tidak mendukung DM.

Mereka menilai bahwa sudah saatnya Daerah Kabupaten Manggarai mesti dipimpin oleh orang baru, orang yang berani memberikan PERUBAHAN dari situasi gagal seperti yang telah disebutkan di atas. Cita-cita PERUBAHAN ini bagi mereka menjadi nyata di dalam diri H2N yang mengusungkan ide atau semboyan tersebut.

Dengan H2N yang telah berani menyatakan diri siap memberikan PERUBAHAN, kerinduan mereka agar Daerah Kabupaten Manggarai keluar dari ketertinggalan dan kegagalan itu menjadi terwujud.

Lebih lanjut Yohanes menjelaskan, mereka juga menyadari bahwa cita-cita PERUBAHAN itu tidak selamanya bisa diterjemahkan atau diwujudkan di dalam diri H2N. Karena itu, jika terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati nanti, mereka akan terus mengawal H2N dalam rangka tercapainya PERUBAHAN itu, yakni terciptanya Kebaikan Bersama (Bonum Commune) bagi warga Manggarai.

Adapun dukungan ‘RELAWAN MUDA H2N JAKARTA’ ini merupakan gabungan pemuda dan mahasiswa asal Manggarai yang berada dan kuliah di Jakarta.*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed