oleh

Alasan Sepak Bola Manggarai “Mati Suri”

Newsreport.id – Salam olahraga. Saya yakin anda sekalian adalah insan pecinta sepak bola dengan berbagai peran. Entah sebagai seorang Interisti, Milanisti, Juventini atau seorang Persim Mania.

Semua disatukan oleh hasil pertandingan Liga Champions Eropa di hari Rabu dan Kamis, ETMC maupun Liga Paskah. Benar to? Saya yakin hal ini sudah menjadi kebiasaan kita.

Kita sepakat bahwa sepak bola adalah olah raga rakyat dan olahraga yang merakyat. Sepak bola merupakan cabang olahraga yang mampu menggerakkan berbagai sektor entah itu sektor ekonomi maupun sektor sosial budaya masyarakat. Di Manggarai pun demikian.

Akhir-akhir ini, kebanyakan masyarakat kompak membahas sepak bola. Di tengah seleksi pemain Persim Manggarai menuju gelaran ETMC di Lembata, para pemerhati sepak bola hadir bak jamur.

Hal ini wajar. Ada kerinduan akan prestasi sepak bola di tanah Nuca Lale. Saya dan anda sudah terlalu lama menantikan prestasi. Namun apa daya, prestasi tak kunjung hadir. Ruang diskusi kita hanya kebanjiran kritikan dan nada pesisme.

Tentu kita bertanya, mengapa hal ini terus terjadi? Saya mencoba menguraikannya dalam tulisan ini.

Hemat saya, setidaknya terdapat lima persoalan sehingga sepak bola di Manggarai belum bisa berkembang. Adalah bijak bila kita awali dengan mengidentifikasi masalah sebelum menggerakkan konsep atau jalan keluar.

Pertama, disadari atau tidak, cabang perorangan saat ini masih menjadi pusat perhatian pemerintah. Olahraga pun dewasa ini karib dengan politik. Hal ini tidak dimungkiri lagi.

Karena berkawan dengan politik, olahraga pun tidak bisa lepas dari politik identitas (pengakuan publik) dan politik kebijakan yang berujung pada politik anggaran.

Secara umum, di Manggarai, sepak bola masuk dalam lingkaran pengakuan public. Sepak bola sudah memiliki politik identitasnya.

Dengan demikian, sepak bola kemudian harus bertarung dengan cabang cabang olahraga lainnya, termasuk kategori perorangan untuk menegaskan pengakuan publik akan identitas dirinya yang bermuara pada keseriusan pemerintah mengurus olahraga.

Pengakuan publik dalam hal ini umumnya linear dengan prestasi. Kenyataannya, sepak bola Manggarai saat-saat ini gagal memberi prestasi. Tidak ada pengakuan dari publik, bahkan cenderung dipandang sebelah mata.

Sebaliknya, cabang perorangan seperti Kempo sukses memberi prestasi. Publik pun mengakui hal ini. Secara politik, sepak bola telah kalah.

Konsekuensinya ialah, politik kebijakan olahraga lebih berpihak pada cabang perorangan. Konsekuensi ikutannya tentu pada keberpihakan program kerja dan anggaran.

Sebagian besar agenda pembinaan sepak bola mandek. Program kerja sepak bola tidak didukung oleh dana yang memadai. Tidak berani berambisi besar, hanya fokus di turnamen tingkat provinsi saja. Program kreatif lainnya “layu sebelum berkembang”.

Kedua, infrastruktur lapangan belum layak. Untuk poin kedua ini, kita sepakat untuk mengatakan “tidak ada perayaan” di sepak bola Manggarai. Jika stadion kita katakan sebagai altar pertarungan, kita tidak bisa mengelak jika kita kembali mengatakan bahwa stadion Golo Dukal “mati”.

Tak ada perayaan di stadion Golo Dukal. Tidak ada denyut nadi di sana. Kondisi stadion Golo Dukal saja bisa kita lihat seperti saat ini angker bak kapal tua yang tinggal tunggu waktu untuk tenggelam.

Apalagi lapangan di desa-desa. Mengharapkan keberpihakan pemerintah desa untuk mengelola lapangan desa, toh tidak ada tanda-tanda berarti. Implikasinya jelas, sepak bola perlahan “mati” di tanahnya sendiri. Stadion Golo Dukal beranjak tua. Sepak bola Manggarai pun perlahan tinggal cerita.

Ketiga, ketika kita meyakini sepak bola butuh uang, peran berbagai pihak, terutama pihak swasta, tidak bisa pinggirkan. Sepak bola Manggarai belum menyentuh peran sektor swasta secara konsisten.

Sederhana saja, kita bisa melihat kostum tim Persim Manggarai saat berlaga di even tingkat provinsi. Tidak banyak sponsor yang terwujud dalam simbol pada seragam tim.

Hal ini merupakan indikasi kuat minimnya peran sektor swasta yang berkelanjutan. Minimal ada tulisan produk atau nama instansi di kostum pemain. Tidak ada. Hal ini diperparah dengan “kematian dinamika proses” pembinaan sepak bola Manggarai.

Pihak swasta pun belum diberikan ruang dan peran secara maksimal. Namun catatan kritis dalam hal ini adalah bagaimana membangun trust dari pihak swasta kepada pengelola sepak bola Manggarai. Kita harus sepakat, olah raga minus peran swasta adalah sebuah kemustahilan.

Keempat, salah urus organisasi Askab Manggarai. Askab Manggarai tentunya sebuah keniscayaan dalam persepakbolaan di Manggarai.

Tapi berapa banyak yang menganal dan bergaul akrab dengan organisasi ini? Apakah Anda pernah mendengar adanya konggres Askab Manggarai? Sejauh yang saya amati dan alami, hal ini belum pernah terjadi secara faktual? Bisa dikatakan, Askab Manggarai belum pernah menyelenggarakan konggres secara nyata dan faktual.

Idealnya, Askab Manggarai memiliki anggota yakni tim-tim yang tersebar di seluruh kecamatan. Anggota inilah yang nantinya menjadi peserta konggres. Punya hak memilih dan dipilih sebagai pengurus Askab.

Mereka yang berperan penting menentukan arah gerak sepak bola Manggarai melalui program kerja dan fungsi pengawasan. Askab Manggarai juga tidak memiliki klub faktual. Apalagi jika konsepnya menyelenggarakan konggres, hal ini tidak terjadi.

Lalu apa yang terjadi dengan Askab Manggarai? Kuat dugaan, ada “tangan-tangan tidak kelihatan” di tubuh Askab Manggarai. Tangan-tangan inilah yang berperan dengan leluasa dalam dinamika sepak bola Manggarai.

Parahnya, “tangan-tangan tak kelihatan” ini membawa nuansa keterpurukan bagi sepak bola di Manggarai. Pembinaan tidak ada, prestasi tidak ada. Pembinaan usia dini mandek. Keberadaan klub sebagai anggota Askab pun tidak jelas. Berbagai program pengembangan gagal dieksekusi.

Dengan demikian, sepak bola Manggarai mengalami kemunduran. Saat ini, mungkin menjadi penting untuk merevitalisasi Askab Manggarai.

Kelima, gerakan sosial kemasyarakatan belum bergerak secara kolektif. Di setiap kecamatan selalu ada orang yang gila bola. Setiap pribadi yang rela menggelontorkan dana pribadi untuk membentuk tim atau bahkan menyelengarakan turnamen.

Sepak bola Manggarai bersyukur memiliki orang-orang seperti ini. Hanya sayang, pergerakan mereka masih sendiri-sendiri.

Tak pelak, ada tim yang “mati sebelum berkembang”. Toh kita harus akui, banyak juga klub yang terus menjaga eksistensinya dengan mengadakan laga persahabatan dengan tim lain. Saya melihat kondisi ini sebagai masalah.

Namun demikian juga bisa menjadi salah satu peluang untuk digerakkan sebagai kekuatan yang sangat dasyat. Bayangkan saja, jika Askab mampu mengadakan Liga 1 Askab.

Tim yang berlaga berasal dari setiap kecamatan. Setiap tim diverifikasi dari berbagai aspek misalkan anggaran klub, suporter maupun pembinaan usia muda.

Askab Manggarai tinggal berperan sebagai operator Liga. Liga berjalan dengan lancar. Tentu dengan dinamikanya. Persim Manggarai tidak kekurangan pemain, sektor ekonomi dapat berkembang. Prestasi akan hadir di saat yang tepat.

Kita berharap mereka yang gila bola tadi, orang yang memiliki passion di sepak bola, dapat “digerakkan” secara kolektif untuk menjadi sebuah kekuatan massa yang masif dan terstruktur demi kemajuan sepak bola Manggarai.

Bagaimana? Apakah bapak, ibu, kakak, adek masyarakat sepak bola Manggarai sekalian memiliki poin tambahan terkait alasan mengapa sepak bola Manggarai tidak berkembang? Jika ada, mari kita berdiskusi. Jangan lupa ngopi. Sepak bola juga berteman karib dengan kopi.

Juga selamat membaca perkembangan sepak bola NTT, Indonesia dan dunia. Tulisan terkait konsep atau jalan keluar akan masalah ini sedang digarap. Sekali lagi, selamat membaca. Jaya selalu sepak bola manggarai. Askab kuat Persim juara.

Penulis: Evan Lahur
Sekretaris Forum Pemerhati Sepak Bola Manggarai (FPSM).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed